KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan merupakan dua ulama besar Nusantara yang menjadi tonggak utama berkembangnya ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di Indonesia. Keduanya hidup pada masa yang sama, menghadapi tantangan penjajahan, kemunduran umat, serta kebutuhan mendesak akan pembaruan pemahaman keislaman, namun dengan pendekatan yang saling melengkapi.
KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dikenal sebagai penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang berakar kuat pada mazhab fikih, tasawuf, dan akhlak. Melalui NU yang didirikan pada tahun 1926, beliau meneguhkan ajaran Aswaja dengan berlandaskan pada empat mazhab fikih, khususnya mazhab Syafi’i, serta pemikiran teologis Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. KH Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya menjaga sanad keilmuan, menghormati tradisi keagamaan lokal selama tidak bertentangan dengan syariat, serta mengedepankan sikap tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil). Prinsip-prinsip ini menjadikan Aswaja di Indonesia tumbuh sebagai Islam yang ramah, inklusif, dan berakar kuat di tengah masyarakat.
Sementara itu, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, tampil sebagai pelopor gerakan tajdid (pembaruan) yang berorientasi pada pemurnian ajaran Islam dan penguatan pendidikan umat. Meski sering dipersepsikan berbeda pendekatan, KH Ahmad Dahlan sejatinya juga berangkat dari nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, terutama dalam komitmennya pada Al-Qur’an dan Sunnah serta penolakan terhadap takhayul, bid’ah yang menyimpang, dan praktik keagamaan yang tidak berdasar. Melalui Muhammadiyah yang berdiri pada tahun 1912, beliau menanamkan Aswaja dalam bentuk Islam yang rasional, berkemajuan, dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan zaman, terutama melalui pendidikan, kesehatan, dan gerakan sosial.
Perbedaan pendekatan antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan bukanlah bentuk pertentangan, melainkan kekayaan khazanah keislaman Indonesia. KH Hasyim Asy’ari meneguhkan dimensi tradisi dan spiritualitas umat, sementara KH Ahmad Dahlan menguatkan dimensi pembaruan dan rasionalitas. Keduanya berpijak pada tujuan yang sama, yaitu menjaga kemurnian ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah serta membentuk umat Islam Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.
Dengan demikian, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan layak disebut sebagai pilar utama Aswaja di Indonesia. Warisan pemikiran dan perjuangan mereka tidak hanya membentuk wajah Islam Indonesia yang moderat dan damai, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi persatuan umat dan keutuhan bangsa hingga hari ini.(red)


