matarajawali.net; BONDOWOSO -Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso bekerja sama dengan Perseroan Terbatas (PT) Indocafco melaksanakan sosialisasi regulasi kemitraan Perhutani sekaligus penyuluhan budidaya kopi adaptif terhadap perubahan iklim kepada anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sukorejo Makmur di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso. Kegiatan tersebut dihadiri sedikitnya 25 orang petani kopi yang merupakan anggota LMDH Sukorejo Makmur dan mitra Perhutani.
30/6/2026
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai regulasi kemitraan kehutanan yang berlaku di lingkungan Perhutani sekaligus memperkuat kapasitas petani dalam menerapkan teknik budidaya kopi yang mampu beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Melalui sinergi antara Perhutani dan dunia usaha, diharapkan tercipta tata kelola kemitraan yang berkelanjutan serta peningkatan produktivitas dan kualitas hasil kopi rakyat.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kemitraan kehutanan merupakan instrumen strategis untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat sebagai mitra utama. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan kawasan hutan tidak hanya ditentukan oleh aspek konservasi, tetapi juga oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan kawasan hutan secara legal, produktif, dan bertanggung jawab.

“Kami berharap seluruh anggota LMDH dapat memahami regulasi kemitraan yang berlaku sehingga pelaksanaan kegiatan di lapangan berjalan sesuai ketentuan. Di sisi lain, perubahan iklim menjadi tantangan nyata bagi sektor pertanian, termasuk komoditas kopi. Oleh karena itu, penerapan teknik budidaya yang adaptif menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga produktivitas sekaligus mendukung kelestarian fungsi hutan. Kemitraan yang kuat akan memberikan manfaat bagi kelestarian hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan,” jelas Misbakhul Munir.
Sementara itu, perwakilan PT Indocafco, Wageyanto, S.PM., S.E., menjelaskan bahwa perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu udara, serta meningkatnya risiko serangan organisme pengganggu tanaman akibat perubahan iklim menuntut petani untuk menerapkan praktik budidaya yang lebih adaptif. Upaya tersebut meliputi penggunaan varietas unggul, pengelolaan tanaman penaung, konservasi tanah dan air, pemupukan berimbang, serta penerapan teknik panen dan pascapanen yang baik agar mutu kopi tetap terjaga.
“Pendampingan kepada petani tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun sistem budidaya kopi yang tangguh terhadap perubahan iklim. Dengan menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), petani akan mampu menghasilkan kopi berkualitas tinggi yang memenuhi kebutuhan industri sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” terang Wageyanto.
Ketua LMDH Sukorejo Makmur, Ibrahim, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan sosialisasi tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat bermanfaat bagi anggota LMDH dalam memahami aturan kemitraan sekaligus menambah wawasan mengenai teknik budidaya kopi yang sesuai dengan tantangan perubahan iklim.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Perhutani KPH Bondowoso dan PT Indocafco atas pendampingan yang diberikan kepada anggota LMDH. Melalui kegiatan ini kami semakin memahami hak dan kewajiban dalam kemitraan kehutanan, sekaligus memperoleh pengetahuan baru mengenai budidaya kopi yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut sehingga kesejahteraan petani meningkat, kualitas kopi semakin baik, dan kelestarian hutan tetap terjaga,” ungkap Samsul Arifin.
Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias melalui sesi diskusi dan tanya jawab mengenai regulasi kemitraan maupun penerapan budidaya kopi yang sesuai dengan kondisi iklim saat ini.
Diharapkan, hasil sosialisasi ini dapat meningkatkan pemahaman anggota LMDH dalam menjalankan kemitraan secara tertib, memperkuat kolaborasi antara Perhutani, mitra usaha, dan masyarakat, serta mendorong terwujudnya pengelolaan hutan yang lestari dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis komoditas kopi secara berkelanjutan.(sup)



