matarajawali.ner; BONDOWOSO-Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso terus memperkuat upaya peningkatan produksi hasil hutan bukan kayu (HHBK), khususnya getah pinus, sebagai salah satu komoditas strategis yang berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat desa hutan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui kegiatan pembinaan, pengawalan, dan pemberian motivasi kepada para penyadap getah pinus bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Dewi Rengganis yang dilaksanakan di kediaman Ketua LMDH Dewi Rengganis desa Curahdami, Jumat (17/07/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata Perhutani KPH Bondowoso, Sugiyanto, didampingi Asisten Perhutani (Asper) BKPH Bondowoso Eko Hariyanto, serta dihadiri Ketua LMDH Dewi Rengganis beserta seluruh petani penyadap getah pinus wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Curahdami.
Dalam sambutannya, Sugiyanto menyampaikan bahwa keberhasilan pencapaian target produksi getah pinus sangat bergantung pada penerapan teknik penyadapan yang sesuai standar operasional, pengelolaan tegakan yang berkelanjutan, serta sinergi yang kuat antara Perhutani dan masyarakat desa hutan.
“Produksi getah pinus tidak hanya diukur dari besarnya volume yang dihasilkan, tetapi juga dari keberhasilan menjaga kesehatan tegakan melalui penerapan teknik penyadapan yang benar. Optimalisasi produksi harus berjalan selaras dengan prinsip kelestarian sumber daya hutan sehingga produktivitas pohon tetap terjaga sepanjang daur pengelolaan. Oleh karena itu, disiplin dalam pelaksanaan sadapan, kualitas hasil, serta kepatuhan terhadap standar teknis menjadi faktor utama dalam meningkatkan produktivitas HHBK secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sugiyanto juga menyampaikan pesan Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, bahwa peningkatan produksi getah pinus merupakan bagian dari implementasi pengelolaan hutan lestari yang mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial.
Menurutnya, Administratur menegaskan bahwa setiap aktivitas penyadapan harus memperhatikan daya dukung tegakan melalui penerapan sustainable forest management, sehingga keseimbangan fisiologis pohon tetap terpelihara dan produktivitas resin dapat dipertahankan secara optimal. Pendekatan silvikultur yang tepat, monitoring kesehatan tegakan secara berkala, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi fondasi dalam mewujudkan tata kelola hasil hutan bukan kayu yang adaptif terhadap perubahan iklim, berdaya saing tinggi, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi perusahaan maupun masyarakat sekitar hutan.
Sementara itu, Ketua LMDH Dewi Rengganis, Dasuki, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pendampingan yang secara konsisten diberikan Perhutani kepada para petani penyadap getah pinus.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Perhutani KPH Bondowoso yang terus memberikan pembinaan dan motivasi kepada para anggota LMDH. Pendampingan ini menambah semangat kami untuk meningkatkan produksi getah pinus dengan tetap mematuhi teknik penyadapan yang benar, menjaga kelestarian hutan, serta mendukung tercapainya target produksi yang telah ditetapkan perusahaan. Kami berkomitmen untuk terus bersinergi bersama Perhutani demi terwujudnya hutan yang produktif, lestari, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa hutan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan pembinaan tersebut, Perhutani KPH Bondowoso berharap terbangun komitmen bersama antara Perhutani dan LMDH dalam meningkatkan produktivitas getah pinus secara optimal tanpa mengabaikan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari, sehingga keberlanjutan fungsi ekologis hutan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat dapat terus terjaga. (Sup)



