Matarajawali.net–Sidoarjo; Di sebuah rumah sederhana yang kondisinya jauh dari kata layak di Desa Tenggulunan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, tiga anak harus menjalani kehidupan yang berat di usia belia. Alih-alih menikmati masa kanak-kanak di bangku sekolah, mereka justru bergulat dengan keterbatasan ekonomi yang memaksa mimpi pendidikan terhenti.
Ketiga anak tersebut adalah Muhammad Fariz Aditiyan (11), Gendis Putri Ayu Kurniawan (7), dan Fatiyah (3). Mereka kini tinggal bersama kakek dan neneknya, Jauri (63) dan Sumarsih (60), setelah orang tua mereka tak lagi mampu mengasuh akibat persoalan ekonomi dan rumah tangga.
Sudah sekitar satu tahun terakhir, rumah sang kakek menjadi satu-satunya tempat mereka bergantung hidup.
Kondisi ekonomi keluarga sangat memprihatinkan. Sumarsih bekerja sebagai buruh rumah tangga dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari, sementara Jauri sudah tidak dapat bekerja karena menderita pengapuran di kedua kakinya. Penghasilan yang minim kerap tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, bahkan sekadar makan sehari-hari.
Untuk bertahan hidup, keluarga ini sering mengonsumsi nasi aking atau sisa nasi yang dihangatkan kembali. Dalam situasi tersebut, pendidikan menjadi kebutuhan yang sulit dijangkau.
Fariz terpaksa berhenti sekolah sejak duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah, padahal seharusnya kini ia berada di kelas 5. Sementara adiknya, Gendis, juga harus menghentikan pendidikannya sejak taman kanak-kanak karena keterbatasan biaya seragam dan perlengkapan sekolah.
“Pengen sekolah lagi, tapi nggak punya biaya,” ujar Fariz dengan suara lirih, Senin (12/1/2026).
Jauri mengaku sedih melihat kondisi cucu-cucunya yang terpaksa putus sekolah. Ia berharap mereka bisa mengenyam pendidikan dan memiliki masa depan yang lebih baik, namun keterbatasan fisik dan ekonomi membuatnya tak berdaya.
“Yang penting anak-anak bisa makan dan sehat. Soal sekolah, saya ingin mereka lanjut, tapi sudah tidak sanggup,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi keluarga semakin memprihatinkan lantaran peran orang tua yang tak jelas. Sang ibu pergi tanpa kabar, sementara ayah mereka bekerja sebagai penjaga warung kopi di wilayah Porong dengan penghasilan pas-pasan.
Bahkan, satu dari empat cucu Jauri harus tinggal terpisah dan menumpang di rumah kakek-nenek dari pihak ibu di Desa Jumputrejo.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Desa Tenggulunan, Akhmad Idom Maun, menyatakan pemerintah desa akan turun tangan membantu. Pihaknya berjanji mengurus administrasi kependudukan serta berkoordinasi dengan instansi terkait agar hak pendidikan anak-anak tersebut dapat kembali terpenuhi.
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar anak-anak ini bisa kembali bersekolah,” tegasnya.
Meski keluarga Jauri tercatat sebagai penerima sejumlah bantuan pemerintah seperti BPNT, BPJS Kesehatan, dan program bedah rumah, namun sejak harus menanggung kebutuhan hidup cucu-cucunya, beban ekonomi yang mereka pikul semakin berat.
Kisah Fariz, Gendis, dan Fatiyah menjadi potret nyata bahwa di tengah pembangunan, masih ada anak-anak di Sidoarjo yang terancam kehilangan masa depan akibat kemiskinan. Mereka bukan kekurangan mimpi, melainkan kekurangan kesempatan. Di balik rumah tua yang nyaris rapuh itu, harapan sederhana tetap hidup: suatu hari nanti, langkah kecil mereka bisa kembali menuju sekolah.



