Waktu Sekarang

1 April 2026 15:55

Bantengan Sholawat Kota Batu, Harmoni Seni Tradisi dan Dakwah yang Mengakar di Masyarakat

Kategori :

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Matarajawali.net–KOTA BATU; Kesenian bantengan yang tumbuh dan berkembang di Kota Batu terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu warisan budaya khas Malang Raya. Tidak hanya menjadi hiburan, bantengan juga mengandung nilai sosial, budaya, hingga religius yang kuat, menjadikannya sebagai identitas yang membanggakan bagi masyarakat setempat.

Salah satu pelaku sekaligus pendekar bantengan, Mbah Agus Riyanto, mengungkapkan bahwa kesenian bantengan memiliki makna lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menyebutkan bahwa bantengan menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antaranggota maupun antar kelompok bantengan.

“Bantengan ini bukan hanya kesenian biasa, tapi juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan,” ujarnya.

Semangat gotong royong dan solidaritas sangat terasa dalam setiap kegiatan bantengan, mulai dari latihan hingga pertunjukan. Hal ini menjadikan bantengan sebagai ruang interaksi sosial yang positif di tengah masyarakat.

Di wilayah Malang Raya, kesenian bantengan juga memiliki wadah bernama Banteng Nuswantara yang digagas oleh Mbah Agus Tubrun. Wadah ini berfungsi untuk menaungi berbagai kelompok bantengan, tidak hanya di Malang Raya tetapi juga hingga tingkat Nusantara, sehingga perkembangan kesenian ini semakin terarah dan terorganisir.

Salah satu agenda terbesar dalam kesenian bantengan adalah event “Seribu Banteng” yang rutin digelar setiap bulan Agustus. Kegiatan ini sering disebut sebagai “hari raya”-nya para pelaku bantengan. Dalam event tersebut, ratusan hingga ribuan kelompok bantengan berkumpul dan menampilkan atraksi terbaik mereka.

Event ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Tidak jarang, pengunjung luar negeri datang secara khusus untuk menyaksikan keunikan kesenian bantengan.

“Event ini untuk mengenalkan bantengan ke dunia luar. Bahkan ada yang datang dari luar negeri untuk melihat langsung,” tambah Mbah Agus.

Meski telah dikenal luas, sejarah awal kesenian bantengan hingga kini belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan penuturan para sesepuh, bantengan diyakini awalnya diciptakan sebagai media untuk menarik minat generasi muda agar mau mempelajari pencak silat, sekaligus menanamkan nilai disiplin dan keberanian.

Di sisi lain, kesenian bantengan di Kota Batu juga dikenal dengan ciri khas bantengan sholawat. Perpaduan antara seni tradisional dan unsur dakwah Islam ini menjadi keunikan tersendiri yang terus dijaga hingga sekarang.

Mbah Agus menjelaskan bahwa tradisi menyisipkan dakwah dalam pertunjukan bantengan telah dilakukan sejak zaman para leluhur. Dalam setiap pertunjukan, lantunan sholawat selalu hadir sebagai bagian dari iringan.

“Sejak dari kakek-kakek terdahulu memang sudah seperti ini. Dalam pertunjukan bantengan selalu ada dakwah Islam yang disisipkan,” jelasnya.

Menurutnya, sholawat merupakan manifestasi dakwah yang disampaikan secara halus tanpa terasa menggurui. Para pemain maupun penonton sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang menerima pesan-pesan keagamaan.

“Sholawat itu seperti dakwah yang tidak terasa, tapi bisa merasuk ke dalam hati,” ungkapnya.

Perpaduan antara gerakan bantengan yang dinamis dengan lantunan sholawat menciptakan suasana yang khas, di mana unsur hiburan dan nilai spiritual berjalan beriringan. Hal ini menjadikan bantengan tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan bagi masyarakat.

Dengan kekayaan nilai yang dimilikinya, kesenian bantengan di Kota Batu kini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tradisional, tetapi juga sebagai media pemersatu, sarana edukasi, hingga wadah dakwah yang efektif. Dukungan masyarakat serta pelaku seni membuat bantengan diyakini akan terus berkembang dan semakin dikenal hingga ke tingkat internasional.(Aji)

No Tag
Matarajawali
Di Post : 7 jam Yang Lalu
Berita Serupa
Kategori 1
Kategori 3
Kategori 2
Kategori 4