Waktu Sekarang

26 Januari 2026 19:04

Gus Miek, Wali Nyentrik yang Berdakwah di Lembah Hitam

Kategori :

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Foto: Gus Miek (jaket hitam) bersama KH. Ahmad Sidiq (bersurban putih)

 

KEDIRI – KH. Chamim Djazuli atau yang lebih dikenal dengan Gus Miek dikenal sebagai sosok wali khariqul ‘adah yang memiliki metode dakwah unik dan nyentrik. Berbeda dengan kebanyakan ulama, Gus Miek justru memilih berdakwah di tempat-tempat yang kerap disebut sebagai “lembah hitam”, seperti diskotik, arena perjudian, hingga lingkungan para pemabuk dan perempuan nakal.

Dakwah Gus Miek sempat menimbulkan tanda tanya, bahkan keraguan, di kalangan sebagian ulama pada masanya. Salah satu kisah yang masyhur adalah dialog antara KH. Hamid Pasuruan dan KH. Ahmad Siddiq Jember.

Kala itu, KH. Ahmad Siddiq menyampaikan kegundahannya kepada KH. Hamid terkait metode dakwah Gus Miek yang dianggap tidak lazim. Namun jawaban KH. Hamid justru mengejutkan.

“Ya, Pak Kiai, begini, Gus Miek itu di atas saya,” ujar KH. Hamid.

Pernyataan tersebut membuat KH. Ahmad Siddiq terkejut dan tidak langsung percaya, mengingat KH. Hamid sendiri dikenal luas sebagai ulama besar dengan tingkat kealiman dan kewalian yang tinggi di tanah Jawa.

KH. Hamid kemudian menjelaskan dengan penuh ketawadhuan:
“Saya itu tugasnya sowan kepada para kiai. Kalau Gus Miek itu tugasnya kepada bromocorah.”

Menurut KH. Hamid, Gus Miek memiliki amanah dakwah yang sangat berat, yakni menyentuh hati para pemabuk, penjudi, perempuan nakal, dan masyarakat awam yang jauh dari agama.
“Benar, Pak Kiai. Gus Miek itu tugasnya kepada para bromocorah. Untuk tugas seperti itu saya tidak sanggup,” tegas KH. Hamid.

Kisah ini mempertegas bahwa setiap wali dan ulama memiliki jalan dakwah masing-masing. Gus Miek hadir sebagai sosok yang merangkul mereka yang kerap terpinggirkan dari kehidupan religius, membimbing tanpa menghakimi, dan menanamkan nilai-nilai tauhid melalui pendekatan kasih sayang.

Hingga kini, jejak dakwah Gus Miek terus dikenang, salah satunya melalui Sema’an Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin yang rutin digelar dan diikuti ribuan jamaah dari berbagai daerah.

“Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah. Bibarokati Sema’an Al-Qur’an wa Dzikrul Ghofilin Jantiko Mantab,” menjadi doa yang terus mengalir dari para pecinta dan penerus perjuangan Gus Miek.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

No Tag
Matarajawali
Di Post : 5 hari Yang Lalu
Berita Serupa
Kategori 1
Kategori 3
Kategori 2
Kategori 4