Waktu Sekarang

26 Januari 2026 19:40

Kisah Gus Miek Bertemu Pengemis di Kediri, Pesan Mendalam tentang Rendah Hati dan Husnudzan

Kategori :

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Foto: KH. Hamim Thohari Djazuli (Gus Miek)

 

matarajawali.net – Sosok KH Hamim Djazuli atau yang lebih dikenal sebagai Gus Miek, kembali menghadirkan kisah penuh hikmah yang hingga kini masih relevan untuk direnungkan. Salah satunya adalah pertemuannya dengan seorang pengemis di Kota Kediri, yang menyimpan pesan mendalam tentang kerendahan hati dan larangan berburuk sangka.

Peristiwa itu terjadi suatu pagi, saat Gus Miek berjalan-jalan menggunakan sepeda bersama Miftah, seorang santri asal Garum, Kabupaten Blitar. Di tengah perjalanan, Gus Miek tiba-tiba meminta berhenti dan menunjuk seorang pengemis yang sedang meminta-minta di pinggir jalan.

“Miftah, nanti kamu ikut bersalaman dengan orang itu,” ujar Gus Miek.
Keduanya menunggu hingga ada orang yang memberi sedekah. Setelah itu, pengemis tersebut berdiri hendak pergi. Gus Miek lalu mengucapkan salam yang langsung dibalas oleh sang pengemis dengan nada terkejut.

“Lho, kok kamu, Gus?” kata pengemis itu. “Iya, Mbah,” sahut Gus Miek dengan penuh takzim.

Dalam perbincangan singkat itu, pengemis tersebut sempat berkata, “Di sana ada warung murah, Gus. Tapi masih ada yang lebih murah lagi.”
Gus Miek hanya menanggapi singkat, “Iya, Mbah. Hanya itu saja?”
Pengemis itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan mereka.

Usai kejadian tersebut, Gus Miek menjelaskan kepada Miftah bahwa pengemis itu bukanlah orang biasa.
“Tah, orang itu adalah orang yang terbalik,” kata Gus Miek.

Saat Miftah bertanya maksudnya, Gus Miek menjelaskan bahwa secara lahiriah orang tersebut hidup sebagai pengemis, tidur di emperan toko dan hidup seadanya. Namun, menurut Gus Miek, kelak di akhirat keadaannya justru akan berbanding terbalik.

Ia bahkan menyebutkan bahwa KH Mahrus Ali Lirboyo pernah mencari sosok pengemis tersebut selama dua tahun namun tak menemukannya, sementara Gus Miek justru sering bertemu dengannya.

Terkait ucapan “warung murah” yang disampaikan sang pengemis, Gus Miek menafsirkannya sebagai sindiran halus agar dirinya tidak bersikap sombong.
“Itu mencemooh aku agar tidak takabur. Tapi aku masih muda, sulit rasanya tidak takabur. Kalau dia sudah tua, pasti lebih mampu,” ujar Gus Miek dengan rendah hati.

Kisah ini sejalan dengan pesan Gus Miek yang pernah disampaikan kepada Amar Mujib, santri Ploso Kediri yang sering mendampinginya. Gus Miek berpesan agar tidak pernah berburuk sangka kepada siapa pun.

“Jika ada orang meminta sumbangan, anggaplah ia termasuk orang-orang shalih. Jika ada pengemis, anggaplah ia orang arif dan bijaksana. Jika ada seorang kyai meminta sumbangan, anggaplah ia termasuk orang berilmu luas. Setelah itu, mintalah doa restu,” pesan Gus Miek.

Kisah dan nasihat tersebut tertuang dalam buku “Perjalanan dan Ajaran Kyai Hamim Djazuli (Gus Miek)” karya M. Nurul Ibad, dan menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tampak dari penampilan lahiriah.

No Tag
Matarajawali
Di Post : 6 hari Yang Lalu
Berita Serupa
Kategori 1
Kategori 3
Kategori 2
Kategori 4