Waktu Sekarang

24 Juni 2024 10:47

Kades Udit Yulianto Mengadakan Tradisi Ojhung Tahun 2022 Di desa Bugemman

Kategori :

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

matarajawali.net-Situbondo; Tradisi Ojung ini memang di lestarikan dan akan di masukkan dalam event kalender pemerintah daerah Situbondo. Agar di tahun berikutnya acara kesenian ojhung ini juga menjadi agenda kegiatan pemkab, kata Bung Karna ketika menghadiri acara Selamatan Desa Bugeman Kecamatan Kendit. 25/10/2022

Oleh karena itu Bupati Situbondo Drs H Karna Suswandi MM yang akrab di panggil Bung Karna akan meminta pada Kadispora dan Kepala Dispendikbud untuk andil dalam melestarikan budaya yang sangat unik, yaitu Ojhung.

” Tradisi Ojhung tersebut sangatlah unik,yang saya tahu, Tradisi Ojung atau perang cambuk menggunakan rotan di zaman dulu di gelar bertujuan untuk menghadirkan hujan dan tolak balak.

Untuk di desa Bugeman justru sangat berbeda tentunya, disini justru masuk dalam rangkaian acara selamatan desa.

Budaya ini berpotensi mendatangkan wisatawan. Jadi, saya ucapkan terima kasih pada pemdes Bugeman yang mampu melestarikannya. Saya berharap agar para Kepala Desa lain untuk bisa menggali potensi yang ada. Karena tiap desa pasti terdapat budaya yang hanya bukan sekedar budaya semata, tapi bila di lestarikan maka mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat, seperti di desa bugeman ini, tambahnya.

Sementara itu Udid Yulianto Kades Bugeman menjelaskan jika budaya Ojhung tersebut sudah ada sejak abad ke 13 , dan wajib di laksanakan oleh setiap pemimpin desanya. Bila di langgar maka di desa Bugeman akan terjadi malapetaka.

” Oleh para pembabat desa, akhirnya di tiap acara selamatan desa, Ojhung di masukkan dalam acara ritual dan di lombakan. Hal ini bertujuan agar para kaum lelaki tidak hanya bisa berkelahi sembarangan yang berdampak negatif. Dan pelaksanaanya harus di gelar di hari Selasa terakhir pada bulan Maulid “, terang Udid Yulanto.

Dalam pelaksanaannya, di atas panggung dua lelaki dengan saling berhadapan harus bertarung menggunakan penyabet dari rotan yang telah di siapkan oleh panitia. Kedua petarung tersebut harus bertelanjang dada, dan memakai kopiah. Selanjutnya ke dua petarung masing – masing di beri kesempatan untuk saling memukul atau mencambuk. Keduanya harus pandai menangkis dan yang paling banyak mengenai badan lawan, dialah pemenangnya, urainya.

Dan untuk lokasi yang akan di laksanakan juga sudah di tentukan, yaitu di dusun Belengguen “, ujarnya. (Sup)

No Tag
Matarajawali
Di Post : 16:39
Berita Serupa